BPBD Kotim tingkatkan kewaspadaan terhadap ancaman karhutla imbas El Nino

Sampit (ANTARA) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, imbas dari El Nino yang memicu peningkatan suhu dan kekeringan.

“Kami tentu menyikapi ini dengan meningkatkan kewaspadaan. Seraya kami juga mengamati kondisi yang ada,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam di Sampit, Kamis.

El Nino menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah karena berpotensi menimbulkan dampak buruk seperti kekeringan dan kebakaran. Ancaman ini harus diantisipasi agar pencegahan bisa dioptimalkan mencegah dampak buruk.

Langkah kesiapsiagaan ini cukup beralasan lantaran Kotawaringin Timur termasuk daerah yang rawan karhutla. Luasnya sebaran tanah gambut membuat potensi karhutla di daerah ini cukup tinggi.

Saat kemarau, gambut menjadi kering dan mudah terbakar. Padahal, pemadaman kebakaran di lahan gambut cukup sulit sehingga harus disiram berulang-ulang karena api terus membakar ke dalam tanah meski di permukaan terlihat sudah padam.

BPBD Kotawaringin Timur terus berkoordinasi dengan seluruh instansi terkait untuk mengoptimalkan pencegahan karhutla. BPBD juga mendukung upaya-upaya yang dilakukan pemerintah pusat dalam mengantisipasi dampak El Nino.

“Arahnya nanti antisipasi dengan modifikasi cuaca. Mudah-mudahan bisa pas waktunya,” demikian Multazam.

Baca juga: Diangkat jadi PPPK, 338 pegawai di Kotim diminta bekerja lebih optimal

Sementara itu, dua pekan terakhir cuaca panas terasa di Kotawaringin Timur, khususnya di Sampit. Bahkan beberapa hari lalu suhu sempat mencapai lebih dari 35 derajat celcius.

Data dirilis BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, suhu pada Kamis siang sempat mencapai 33,6 derajat celcius. Sekitar pukul 15.00 WIB suhu berangsur turun.

Sementara itu di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta semua pihak, termasuk kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, untuk bersiap melakukan upaya mitigasi menghadapi El Nino yang diprediksi akan terjadi pada Agustus 2023.

Luhut menyebut berdasarkan pengalaman tahun 2015 yang terjadi di Indonesia, El Nino berpotensi menyebabkan dampak kekeringan yang luas, kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada turunnya produksi pertanian dan pertambangan hingga kontribusinya terhadap inflasi.

“Saya meminta seluruh K/L terkait juga pemerintah daerah untuk mulai bersiap sejak dini, memperhitungkan segala langkah yang mesti ditempuh agar pengalaman buruk delapan tahun lalu tidak terulang kembali. Setidaknya sejak saat ini kami menyiapkan teknologi modifikasi cuaca sebagai senjata menghadapi El Nino,” katanya dalam unggahan di akun Instagram pribadinya @luhut.pandjaitan yang dikutip di Jakarta, Rabu.

Luhut mengungkapkan suhu di beberapa daerah belakangan terasa begitu tinggi. Sekjen Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan bahwa fenomena La Nina yang telah terjadi selama tiga tahun berturut-turut dan membawa cuaca lebih basah akhirnya telah berakhir.

Sebagai gantinya, El Nino akan membawa suhu menjadi tinggi sehingga membuat cuaca menjadi lebih kering.


Pewarta : Norjani
Editor : Muhammad Arif Hidayat

Sumber : Disini

Mungkin Anda juga menyukai