Peringatan Dini BMKG: Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat dan Lebih Lama, Kotawaringin Timur Siaga Karhutla
SAMPIT, [5 Maret 2026] Langkah krusial ini diambil menyusul rilis peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi musim kemarau tahun ini akan tiba lebih awal dari siklus normal dan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Berdasarkan analisis data klimatologi BMKG, terdapat pergeseran pola musim yang signifikan di wilayah Kalimantan Tengah, khususnya Kotawaringin Timur. Curah hujan diprediksi akan menurun drastis mulai bulan Mei, menandai dimulainya periode kering yang panjang. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan ekstrem, yang membuat lahan, terutama area gambut yang luas di Kotim, menjadi sangat rantan terbakar.
Merespons peringatan serius tersebut, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana, Multazam menegaskan bahwa seluruh elemen pemerintah daerah, aparat keamanan, dan relawan harus dalam kondisi siap siaga penuh.
“Data BMKG menunjukkan rintangan serius bagi kita di tahun 2026 ini. Musim kemarau yang lebih cepat dan lama artinya jendela waktu kita untuk pencegahan semakin sempit, dan risiko akumulasi titik api semakin tinggi. Oleh karena itu, penetapan status siaga ini adalah komitmen kita untuk melakukan tindakan preventif yang masif dan respons cepat sebelum api membesar,” tegas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kotawaringin.

Pemerintah Kabupaten Kotim, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama TNI, Polri, Manggala Agni, dan OPD terkait lainnya, melakukan langkah-langkah strategis, di antaranya:
- Peningkatan patroli rutin dan deteksi dini titik api (hotspot) menggunakan teknologi satelit dan patroli darat.
- Aktivasi posko-posko lapangan di wilayah rawan Karhutla.
- Pengecekan dan penyiapan sarana prasarana pemadaman, termasuk embung air dan sekat kanal.
- Sosialisasi dan edukasi intensif kepada masyarakat mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar.
Himbauan Kepada Masyarakat dan Korporasi
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur meminta perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat dan pelaku usaha (korporasi) untuk:
- DILARANG KERAS melakukan pembakaran hutan dan lahan untuk alasan apa pun, termasuk pembersihan lahan pertanian (land clearing).
- Segera melaporkan kepada pihak berwenang (BPBD, Polsek, atau Koramil terdekat dan atau pihak desa serta kecamatan) jika melihat kepulan asap atau titik api sekecil apa pun.
- Bijak dalam menggunakan air bersih dan menjaga sumber-sumber air selama periode kekeringan.
Sinergi antara pemerintah, aparat, pihak swasta, dan partisipasi aktif masyarakat adalah kunci utama untuk mencegah terjadinya bencana asap yang merugikan kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Mari bersama-sama menjaga langit Kotawaringin Timur tetap biru dan bebas asap.
Dampaknya kemarau ini diprediksi akan bersifat multi-sektoral. Tidak hanya soal cuaca yang panas, tapi menyentuh aspek ekonomi hingga kesehatan masyarakat.
Berikut adalah beberapa dampak utama yang perlu diwaspadai :
1. Krisis Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)
Ini adalah ancaman paling nyata bagi wilayah seperti Kotawaringin Timur yang memiliki lahan gambut luas.
- Gambut yang Mengering: Kemarau panjang membuat permukaan air tanah di lahan gambut menyusut drastis. Gambut yang kering menjadi sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan karena api merambat di bawah permukaan tanah.
- Bencana Kabut Asap: Akumulasi titik api akan memicu kabut asap yang dapat mengganggu jarak pandang dan melumpuhkan aktivitas transportasi (darat dan udara).
2. Dampak Kesehatan (ISPA & Dehidrasi)
Kualitas udara yang memburuk akibat asap dan debu akan berdampak langsung pada kesehatan fisik warga.
- Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): Lonjakan kasus ISPA, asma, dan iritasi mata akibat paparan partikel asap (PM2.5).
- Penyakit Terkait Panas: Risiko dehidrasi, heatstroke, dan kelelahan akibat suhu ekstrem yang bertahan lama.
3. Penurunan Ketahanan Pangan & Ekonomi
Sektor pertanian dan perkebunan akan menjadi yang paling pertama terpukul secara ekonomi.
- Gagal Panen (Puso): Kekurangan pasokan air untuk irigasi menyebabkan tanaman padi dan palawija mati atau tidak berproduksi maksimal.
- Kenaikan Harga Pangan: Kelangkaan stok pangan di pasar lokal akan memicu inflasi atau kenaikan harga kebutuhan pokok.
- Produktivitas Sawit Menurun: Untuk daerah seperti Kotim, kemarau panjang dapat mengganggu siklus buah kelapa sawit yang berdampak pada pendapatan petani dan daerah.
4. Kelangkaan Air Bersih
Sumur-sumur warga dan sumber air permukaan diprediksi akan menyusut bahkan mengering.
- Kesulitan Air Domestik: Warga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air bersih atau menggali sumur lebih dalam.
- Penurunan Debit Sungai: Menurunnya debit sungai besar (seperti Sungai Mentaya) dapat mengganggu jalur transportasi sungai dan ekosistem perairan.
5. Gangguan Sektor Pendidikan & Aktivitas Sosial
Jika kabut asap masuk ke level “Berbahaya”:
- Libur Sekolah: Aktivitas belajar mengajar tatap muka kemungkinan besar akan dihentikan dan dialihkan ke daring untuk melindungi anak-anak dari paparan asap.
- Pembatasan Aktivitas Luar Ruangan: Event-event publik, olahraga, dan pasar malam akan terhenti, yang juga berdampak pada ekonomi mikro.








































