Prediksi Kemarau Kabupaten Kotawaringin Timur Tahun 2026
Kondisi Latar Belakang (Dinamika Atmosfer & Laut)
- El Nino sedang berlangsung dengan intensitas yang diprediksi semakin kuat mulai Juli–September 2026 (peluang moderat 100%, peluang kuat 86%).
- IOD (Indian Ocean Dipole) positif mulai terjadi pada Juli 2026.
- Angin timuran dominan di wilayah Indonesia, yang umumnya berkorelasi dengan masa kemarau.
Prediksi untuk Kabupaten Kotawaringin Timur
1. Juli 2026
- Curah Hujan: Sangat rendah, 0–20 mm untuk seluruh kecamatan (Antang Kalang, Baamang, Bukit Santuai, Cempaga, Cempaga Hulu, Kota Besi, Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hulu, Parenggean, Pulau Hanaut, Seranau, Telaga Antang, Telawang, Teluk Sampit, Tualan Hulu).
- Sifat Hujan: Seluruh kecamatan masuk kategori Bawah Normal (BN) — artinya curah hujan hanya 0%–50% dari nilai normalnya.
2. Agustus 2026
- Curah Hujan: Tetap sangat rendah, 0–20 mm untuk seluruh kecamatan.
- Sifat Hujan: Seluruh wilayah Kotawaringin Timur masuk kategori Bawah Normal (BN).
3. September 2026
- Curah Hujan: Tetap sangat rendah, 0–20 mm untuk seluruh kecamatan.
- Sifat Hujan: Seluruh wilayah Kotawaringin Timur masuk kategori Bawah Normal (BN).
Berdasarkan Buletin Iklim Kalimantan Tengah Edisi Juni 2026, Kabupaten Kotawaringin Timur diprediksi mengalami kondisi kemarau/kering yang signifikan dan merata pada Juli, Agustus, dan September 2026. Seluruh kecamatan diperkirakan memiliki curah hujan sangat rendah (0–20 mm/bulan) dengan kategori Bawah Normal, yang menunjukkan penyimpangan curah hujan jauh di bawah rata-rata historis.
Himbauan terkait bencana kebakaran hutan dan lahan yang perlu diperhatikan:
1. Pencegahan
- Larang pembakaran lahan untuk kegiatan pembukaan lahan maupun pembuangan sampah, terutama pada puncak musim kemarau Juli–September.
- Terapkan teknologi tanpa bakar (zero burning) untuk pengolahan lahan pertanian dan perkebunan.
- Pastikan alat berat dan kendaraan yang beroperasi di lahan gambut/bervegetasi kering dilengkapi penangkal api knalpot (spark arrester).
2. Pengawasan & Dini
- Aktifkan posko pemantauan kebakaran di tingkat desa/kecamatan, terutama di area rawan seperti lahan gambut, perkebunan, dan hutan produksi.
- Manfaatkan informasi prakiraan cuaca BMKG untuk peringatan dini titik panas (hotspot) dan kekeringan.
- Koordinasikan patroli rutin dengan aparat desa, Polhut, Manggala Agni, dan perusahaan perkebunan.
3. Kesiapsiagaan
- Siapkan sumber air cadangan (embung, kolam, atau sumur bor) di sekitar lahan rawan.
- Buat jalan pemutakhir/jalur pemisah (firebreak) di sekitar pemukiman, lahan pertanian, dan area hutan.
- Pastikan peralatan pemadam dasar (pompa portable, selang, cangkul, gergaji) tersedia dan mudah diakses.
4. Koordinasi Masyarakat
- Sosialisasikan bahaya kabut asap bagi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan (anak, lansia, penderita ISPA).
- Galakkan sistem “siaga” antarwarga untuk melaporkan asap atau api sejak dini.
- Hindarkan aktivitas luar ruangan yang berlebihan saat kualitas udara menurun akibat asap.
5. Perhatian Khusus
- Interaksi El Niño dan IOD Positif yang diprediksi memperkuat masa kemarau menyebabkan risiko kebakaran lebih tinggi dari tahun normal.
- Lahan gambut di Kotawaringin Timur sangat rentan terbakar dan sulit dipadamkan; prioritas utama adalah preventif, bukan pemadaman pascakebakaran.









































