Remaja di Sampit Tewas Tenggelam di Danau Bekas Galian Pasir

SAMPIT, KOMPAS — Seorang anak sekolah menengah pertama di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tenggelam di danau yang terbentuk dari lubang bekas galian pasir. Danau itu sudah lima tahun belakangan dijadikan lokasi wisata dan pemancingan oleh warga.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur Rihel menjelaskan, anak berumur 14 tahun tersebut berasal dari Betang Raya, Sampit. Ia bersama teman-temannya sedang berkumpul dan berwisata di Danau Biru, Kelurahan Pasir Putih.

”Korban ini, menurut keluarga dan teman-temannya, tidak bisa berenang. Tetapi, ia memaksakan diri berenang di danau tanpa tahu kedalamannya,” kata Rihel, Minggu (10/4/2022).

Rihel menambahkan, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (9/4/2022) sore. Korban tenggelam sekitar pukul 16.00 WIB dan baru ditemukan 30 menit setelahnya.

Teman-temannya dan warga sekitar berupaya mencari, tapi tidak membuahkan hasil. Setelah petugas gabungan dari BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur dan PMI Sampit datang, korban berhasil ditemukan dan langsung dilarikan ke Puskesmas Pasir Putih. ”Nyawanya tidak bisa diselamatkan. Korban sudah meninggal ketika ditemukan petugas,” ungkap Rihel.

Sukarelawan PMI Sampit yang ada di lokasi, Sidiq, menambahkan, korban berenang bersama delapan temannya yang merupakan satu sekolah. Teman-temannya sudah berupaya mengingatkan korban agar tidak ikut berenang, tapi korban tidak menggubrisnya lalu ikut masuk ke danau tersebut.

Lubang tersebut, lanjut Rihel, kemudian tertutup air hujan dan memiliki warna kebiruan karena banyak faktor. Warga sekitar kemudian menjadikannya sebagai tempat obyek foto dan berwisata. ”Tempat itu bukan hanya lokasi wisata, melainkan juga menjadi tempat pemancingan karena ada beberapa lubang,” katanya.

Dia mengungkapkan, tempat galian tersebut merupakan milik pribadi warga Pasir Putih. Ia pun mengingatkan warga sekitar agar tidak lagi berwisata di tempat tersebut lantaran berbahaya. Pihaknya pun tidak yakin berapa kedalaman lubang galian pasir tersebut. ”Bisa enam meter atau lebih,” ujarnya.

Rihel menambahkan, kejadian serupa pernah terjadi tahun lalu sekitar bulan Oktober di Desa Tumbang Torung, Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur. Saat itu, enam orang meninggal di lubang tambang karena tertimbun material longsor. ”Kalau lubang-lubang tambang, apalagi yang ilegal ya, pasti akan kami tindak. Kami selalu berkoordinasi dengan kepolisian untuk urusan seperti ini,” katanya.

Rihel tidak bisa memastikan berapa banyak lubang bekas galian ataupun bekas pertambangan yang belum direklamasi. Namun, pihaknya akan menelusuri agar kejadian serupa tidak terulang kembali. (sumber dari https://www.kompas.id/baca/nusantara/2022/04/10/remaja-di-sampit-tewas-tenggelam-di-danau-bekas-galian-pasir?utm_source=kompasid&utm_medium=bannerregister_meteredpaywall&utm_campaign=metered_paywall&utm_content=https%3A%2F%2Fwww.kompas.id%2Fbaca%2Fnusantara%2F2022%2F04%2F10%2Fremaja-di-sampit-tewas-tenggelam-di-danau-bekas-galian-pasir&status=sukses_login&status_login=login)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *